Google+ Badge

Jumat, 23 September 2016

INDIGO

*Disarikan dari beberapa artikel di internet.

Tidak selamanya keistimewaan dapat diterima oleh setiap individu apalagi bagi anak-anak yang memiliki keistimewaan panca indera atau lebih dikenal dengan anak indigo. Kesulitan adaptasi dengan kelebihan yang dimilikinya seringkali membuat anda kesulitan dalam memahami mereka. Adapula yang menyebutkan bahwa anak indigoadalah mereka yang memiliki kemampuan di luar batas anak normal lainnya. Sehingga dalam beberapa kasus ditemukan anak yang tumbuh di keluarga dengan menggunakan bahasa indonesia justru sangat fasih dalam menggunakan bahasa asing (inggris) pada awal mula dia bisa berbicara tanpa ada yang memberikan pengajaran khusus. Anak indigo dipopulerkan oleh penemuan Nancy Ann Tappe dalam sebuah buku yang menemukan adanya warna aura manusia yang dihubungkan dengan kepribadian. Seorang konselor di Amerika Serikat ini menemukan adanya warna indigo atau nila, pencampuran antara warna biru dan ungu yang biasanya dimiliki oleh orang dewasa ditemukan pada anak-anak. Tidak semua orang tau bahwa setiap anak indigo memberikan ciri ciri dalam kehidupan,

Berikut adalah ciri ciri anak indigo berdasarkan fisik dan psikologis :

1.  Memiliki jiwa yang tua

Anak indigo memiliki jiwa yang cenderung lebih tua dibanding dengan usia sebayanya. Sebagian dari mereka ada yang menunjukan pertumbuhan jiwa di usianya yang masih bayi dalam memahami kemampuan berfikir, memahami benda-benda dan karakter orang dewasa. Bahkan perkembangan jiwa yang tumbuh cepat mempengaruhi pertumbuhan fisik seperti tumbuhnya gigi  dan kemampuan motorik yang lebih cepat dibandingkan dengan keadaan normalnya.

2.  Bentuk kepala yang memiliki ciri khas

Bentuk fisik yang mungkin anda lihat adalah kepala yang sedikit besar dari anak seusinya terutama terlihat jelas pada bagian lingkar kepala, dahi dan kening yang lebih lebar. Kuantitas otaknya lebih besar dikarenakan mempunyai kemampuan dalam menganalisi panca inderannya.

3.  Bentuk daun telinga

Anak indigo dapat dilihat dari daun telinga yang memiliki perbedaan ketimbang anak lainnya seperti bentuknya yang sedikit keluar dari kepalanya, telinganya lebih memanjang di bagian ujung atas dan menekuk bagian cuping bawahnya. Hal ini terjadinya karena kepekaan dalam pendengarannya di atas normal.

4.  Mata yang lebih tajam

Anak indigo memiliki tatapan mata yang tajam dan dalam apalagi di bagian pupil lebih besar dibanding dengan anak normalnya, sehinga terkesan memilii sedikit ruang warna putih. Dengan mata yang tajam seperti ini anak indigo memiliki kemampuan supranatural dalam melihat dimensi-dimensi lain yang tidak kasat mata.

5.  Tanda kelahiran

Pada anak anak indigo sering kali ditemukan tanda-tanda kelahiran yang aneh seperti yang terdapat di dahi, atau kedua matanya. Warna tanda kelahiran anak indigo biasanya cukup jelas seperti warna lebam, bekas pukulan.

6.  Bagian tubuh yang sakit

Dalam beberapa kasus anak yang mempunyai keistimewaan ditemukan pernah mengalami sakit kepala yang tidak tertahankan kemudian lambung yang melemah. Hal ini dikarenakan adanya stress dalam berpikir yang keras yang tidak dikehendaki sehingga memerlukan energi yang besar. Sedangkan lambung yang lemah dikarenakan produksi asam lambung yang meningkat ketika anak indigo stress.

7.  Kepribadian emosional

Anak indigo memiliki empati yang tinggi disebakan karena kepekaan yang berlebih pada lingkungannya. Anak indigo juga memiliki rasa marah yang mendesak sehingga menjadi semangat dalam memperbaiki keadaannya. Terkadang anak indigo mendengar suara yang diluar batas kemampuanyya sehingga menjadikan dirinya pribadi yang berubah-ubah.

Demikian beberapa ciri tapi tidak dapat dijadikan pegangan, karena ini hanya berdasarkan pengamatan bukan dari hasil penelitian.

Semoga manfaat

TIPS MEMBACA CEPAT

Kemampuan membaca dapat ditingkatkan dengan latihan, latihan ini dilakukan sesering mungkin dan otomatis akan meningkatkan kemampuan membaca seseorang. Teknik paling umum adalah membaca keseluruhan isi buku tanpa memilih, namun akan timbul kesulitan bila kita hanya punya sedikit waktu, misalkan batas waktu untuk membuat ptk, skripsi, tesis atau desertasi,  untuk itu diperlukan teknik khusus.
Berikutnya adalah jenis buku yang akan dibaca, ada beberapa buku yang perlu dibaca keseluruhan dan ada buku yang hanya diperlukan beberapa bagian saja, buku jenis lainnya misalkan komik atau novel tidak bisa dibaca sebagian saja, harus dibaca keseluruhan agak kita dapat memahami isi dan manfaatnya.
Agar tidak meluas, kita akan fokuskan membaca cepat buku yang berkaitan dengan pembelajaran, membaca buku seperti ini tidak perlu keseluruhan, beberapa bagian saja yg dinilai penting dan akan digunakan dalam pembelajaran, cara yg termudah adalah :
  1. Lihat dan pilih buku yang sesuai dengan kebutuhan kita
  2. Cari tempat yang nyaman dan kondusif serta tenang, usahakan pilih waktu yg tidak mendekati waktu sholat atau ibadah.
  3. Duduk dengan rileks dan santai
  4. Hindari alat komunikasi atau televisi atau apapun, terutama medsos.
  5. Siapkan makanan dan minuman ringan agar saat diperlukan tidak perlu repot, juga alat tulis bila diperlukan
  6. Jika sudah siap mulailah dengan doa
  7. Baca ringkasan buku, ada di bagian sampul belakang dan bagian kata pengantar.
  8. Lihat dan baca daftar isi keseluruhan, pilih dan tandai bagian yang akan dibaca
  9. Baca bagian yg diperlukan, bila ada yg penting beri tanda dengan stabillo,  tapi kalau bukunya hasil pinjam jangan di kotori, catat di buku atau catatan khusus untuk buku tersebut. 
  10. Baca kalimat perkalimat dan usahakan tidak maju mundur dalam membaca, maksudnya membaca terus tanpa mengulang-ulang bacaan yg telah dibaca, karena kita bukan menghapalkan.
  11. Fokus mata ada di tengah buku, yg bergerak adalah bola mata kita bukan kepala apalagi buku yg bergerak.
  12. Buat kesimpulan singkat perbagian yg telah dibaca
  13. Cari referensi lain bila ternyata ada hal yg tidak ditemukan dalam buku yang telah dibaca. 
Itulah beberapa tips tentang membaca cepat semoga dapat memberikan manfaat.

EGO

Awalnya tulisan ini diberi judul (maaf) Tolol,  Bodoh,  Bego, namun atas pertimbangan pendiskreditan suatu tindakan yang sudah keterlaluan dan menjaga perasaan orang yg memang bertindak seperti itu maka judulnya diganti jadi seperti judul yang sekarang.

Tulisan ini dimulai dengan perjalanan pulang kami dari stasiun Depokbaru menuju Parungpanjang menggunakan commuterline, suasana commuterline tidak terlalu penuh namun semua tempat duduk telah terisi, disatu deretan ada 4 pemuda gagah yg duduk dengan kaos kembaran warna hitam dengan tulisan setia, entah setia pada apa,  namun begitu melihat kami yg terdiri dari ibu setengah baya namun cantik,  beserta dua anak perempuannya yg juga cantik dan seorang baru berumur 8 tahun mereka dengan wajah 'ego'nya diam saja tanpa berusaha untuk memberikan tempat duduknya, maka ibu yg cantik tersebut meminta dengan sopan agar mereka menggeser sedikit tempat duduknya, dengan wajah 'ego'mereka menggeser dan memberikan ruang sempit untuk ibu yg cantik itu untuk duduk dan memangku anaknya, sepanjang perjalanan sampai stasiun manggarai tidak peduli dengan sekelilingnya,  sampai saat ada seorang bapak yg terlihat menggendong anaknya yg sakit tetap saja mereka dengan 'ego'nya duduk dengan santai, walaupun terlihat sekali umur mereka sekitar 17-19 tahun,  memang tidak ada satupun yg berwajah tampan,  apakah memang kodratnya orang jelek itu 'ego'nya tinggi?  Entahlah saya belum pernah melihat penelitian untuk itu.  Akhirnya ibu yg cantik tersebut yg memberikan tempat duduknya kepada bapak yg bawa anak tersebut,  bagaimana dengan para pemuda 'ego'?  Mereka dengan santainya hanya melihat tanpa ada reaksi malu atau apapun,  entahlah mereka disekolahkan di mana, mungkin sekolahnya tidak diberikan tata krama, atau memang orangtua mereka tidak pernah mengajarkan cara menghormati orang yg lebih tua dan membantu serta melindungi yg lebih lemah, mungkin saja,  atau memang saat diajarkan tata krama mereka tidak masuk, kita tidak tahu,  yg jelas mereka bukan siswa yg pernah saya ajar.

Demikian akhirnya perjalanan mereka pemuda 'ego' yg tetap duduk walau ada wanita dan org yg lebih tua di hadapan mereka,  semoga mereka segera di terima di sisi-Nya, aamiin.

Commuterline,  bukan sarana yg ramah seperti di Singapura,  Malaysia atau Jepang, sewaktu kami mengunjungi tempat2 tersebut  sangatlah berbeda dengan negara kita yang terkenal ramah penduduknya,  karena memang masyarakatnya paham dan sangat menghormati orangtua,  bahkan mereka tidak akan pernah menduduki kursi prioritas yg bukan hak mereka, juga tentang sampah,  sekecil apapun mereka tidak akan meninggalkan di lantai kereta atau di selipkan dibangku, ciri khas makhluk 'ego' adalah tidak peduli dan menganggap sepele bila membuang sampah sedikit,  menyelak antrian dan sebagainya perbuatan 'ego'. Semua tidak terlihat di negara tetangga kita perbuatan 'ego' seperti di negara kita.

Memang  ternyata pendidikan dengan sikap perilaku sangat berkorelasi,  semakin tinggi pendidikan seseorang (seharusnya) akan tercermin dari sikap perilaku, tindakan dan bicaranya, namun ada kalanya pendidikan tinggi tidak disertai dengan sikap sebagai intelektual sejati, bertolak belakang dengan apa yg telah di dapat di perguruan tinggi,  gelar banyak belum tentu mempunyai intelektual tinggi,  namun intelektual tinggi pasti mempunyai kemampuan yg tinggi, baik dalam pengetahuan maupun sikap, seperti ilmu padi semakin berisi semakin merunduk akan terbukti.

Semoga dengan pendidikan yang semakin membaik kita dapat membentuk negara kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Aamiin yra                        
[9:59 PM, 9/23/2016] +62 852-8416-6484: Numpang

Literasi Indonesia Bangkit Dari Mati Suri

Indonesia,  negara kita yang pernah menjadi negara terpelajar dan  menjadi rujukan dari negara-negara tetangga,  pengetahuan dan teknologinya dulu adalah yang paling maju di wilayah Asia Tenggara, sangat terhormat orang Indonesia saat itu, banyak sekali orang pintar Indonesia yang menjadi dosen atau instruktur di negara tetangga, karena memang saat itu Indonesia adalah negara terpelajar dan terbukti mampu menjadi negara banyak orang pintar,  tapi tahukah kita saat itu orang Indonesia menjadi pintar karena apa?  Karena mereka rajin membaca, menulis dan membagi pengetahuannya kepada orang lain,  kebiasaan membaca saat itu bagaikan kebutuhan yang harus dipenuhi sehingga perpustakaan merupakan tempat pavorit semua  orang.

Tokoh terkenal Indonesia seperti Bung Karno,  bung Hatta,  Ki Hajar Dewantara, Ajip Rosidi, Gusdur,  Habibie,  adalah sederetan tokoh yang literat,  mereka membaca sepanjang hidupnya,  malah bung Hatta pernah menjadi tahanan politik Belanda, sepanjang menjadi tahanan beliau selalu membaca,  ada satu kalimat yang terkenal dari bung Hatta,"Aku rela di penjara Asalkan bersama buku, Karena dengan buku Aku bebas" demikian kalimat yang sangat menggugah yang diabadikan di taman pandang istana negara dekat monumen nasional dan di seberang Kantor Kemkominfo.  Secara harfiah saja berarti buku akan membebaskan kita dengan membacanya, apalagi bila kita dapat menuliskannya akan lebih baik lagi.

Berkaitan dengan kemampuan literasi Indonesia, data UNESCO tahun 2012 menunjukkan bahwa indeks tingkat membaca orang Indonesia hanyalah 0,001. Itu artinya, dari 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius. Dengan rasio ini, berarti di antara 250 juta penduduk Indonesia, hanya 250.000 yang punya minat baca. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 88,1 juta pada 2014.

Dalam hal ini, jangan bandingkan Indonesia dengan negara-negara maju, seperti Amerika, Australia, maupun Inggris. Di antara negara-negara ASEAN saja, Indonesia menempati urutan ketiga terbawah bersama Kamboja dan Laos. Bagaimana tidak, penelitian UNESCO mengenai minat baca pada tahun 2014 lagi-lagi menyebutkan bahwa anak-anak Indonesia membaca hanya 27 halaman buku dalam satu tahun.
          
Pemeringkatan terbaru, menurut data World's Most Literate Nations, yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016, peringkat literasi kita berada di posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti! Indonesia hanya lebih baik dari Bostwana, negara di kawasan selatan Afrika. Fakta ini didasarkan pada studi deskriptif dengan menguji sejumlah aspek. Antara lain, mencakup lima kategori, yaitu, perpustakaan, koran, input sistem pendidikan, output sistem pendidikan, dan ketersediaan komputer.

Fakta tersebut didukung juga oleh survei tiga tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai minat membaca dan menonton anak-anak Indonesia, yang terakhir kali dilakukan pada tahun 2012. Dikatakan, hanya 17,66% anak-anak Indonesia yang memiliki minat baca. Sementara, yang memiliki minat menonton mencapai 91,67%!

Fakta di atas sungguh tidak mengejutkan dan akan sangat naif bila kita tetap membiarkan bangsa ini terus terpuruk dengan keasyikannya, sehingga kebiasaan membaca akan terus menghilang dan akan lenyap selamanya dari negara kita, mulai dari kitalah yang harus menggiatkan kembali kegiatan membaca dan menulis dimulai, dengan membiasakan diri sendiri untuk membaca buku dan menuliskan apa yang ada dalam pikiran kita dan mengajak orang terdekat kita untuk mulai membaca dan menulis.

Gerakan literasi Indonesia telah didengungkan oleh kementrian pendidikan dan kebudayaan dengan Gerakan Literasi Sekolah merupakan program yang resmi secara Nasional di bawah payung hukum Permendikbud No.23 tahun 2015 tentang penanaman budi pekerti, program literasi  ini disebut gerakan karena program ini bukan program jangka pendek tetapi merupakan program jangka panjang yang berkesinambungan dan tidak akan berhenti sebelum literasi membudaya di Indonesia. Selain itu, alasan diberi nama gerakan juga karena program ini membutuhkan orang orang yang terus bergerak dan dinamis untuk terus mau membumikan budaya literasi di Indonesia, khususnya di lingkungan sekolah.

Secara umum Gerakan Literasi Sekolah dilakukan dalam 3 kegiatan yaitu:

1. Gerakan Literasi Sekolah melalui PEMBIASAAN, dengan cara 15 menit pada awal pembelajaran diisi dengan kegiatan pembiasaan berdoa dan membaca buku buku umum. Kemudian PENGEMBANGAN , yaitu literasi pengayaan mata pelajaran tanpa tuntutan akademik. Dan terakhir PEMBELAJARAN, yaitu literasi mata pelajaran dengan tuntutan akademik (misal membaca buku paket pelajaran).

2. READATHON
Yaitu kegiatan  literasi yang diperuntukkan bagi seluruh warga sekolah mulai dari Kepsek sampai pegawai kebersihan sekolah dengan cara membaca serentak selama 42 menit secara senyap. Kegiatan ini bisa dilakukan seminggu sekali dengan waktu sesuai kesepakatan pihak sekolah.

3. SEMARAK LITERASI
Yaitu membaca serentak seluruh warga sekolah dalam waktu yang relatif singkat, waktunya bisa kurang dari waktu program Readathon. Kegiatan ini sebenarnya bukan kegiatan inti darI GLS. Tetapi sangat mendukung tercapainya GLS jika dilakukan secara konsisten.

Khusus di Jawa Barat, untuk merealisasikan  GLS, Gubernur Jabar menantang seluruh pelajar di Jabar untuk menjadi pionir- pionir literasi yang mampu menjawab tantangan bapak Gubernur dengan cara membaca buku minimal 24 buku termasuk 2 buku berbahasa sunda yg mempunyai minimal 100 halaman dalam waktu 10 bulan. Program ini merupakan program unggulan literasi Jabar yang diberi nama WJLRC (West Java Leader's Reading Challenge), program yang telah bergulir mulai bulan September 2016 sampai puncaknya pada Juni 2017 dengan kegiatan Jambore WJLRC.

Semoga kegiatan-kegiatan literasi lain akan terus tumbuh dan berkembang sehingga akan membangkitkan kembali raksasa yang terkubur selama ini, raksasa bernama literasi Indonesia yang akan mengguncang dunia dengan bermunculannya para tokoh dan ahli yang hebat dan pintar serta berbudi pekerti luhur dan mengharumkan nama Indonesia ke seluruh penjuru dunia, namun diperlukan kerja keras, kerja ikhlas, kerja sama serta kerja tuntas dan ketekunan dari kita semua bangsa Indonesia untuk mewujudkan Indonesia yang berliterasi dan maju dalam prestasi.

Penerapan Gerakan Kebersihan Sekolah (GKS)

Setelah sekian lama kebersihan sekolah di SMPN 2 Cigudeg memprihatinkan, sebagian besar siswa dan sebagian guru sudah tidak lagi peduli dengan kebersihan sekolah, maka mulai hari selasa,  6 juni 2016 dimulailah gerakan pemaksaan berupa denda yg disosialisasi dahulu sejak pagi hari,  gerakan ini tidak perlu ijin dari kepala sekolah karena memang tujuannya untuk menciptakan sekolah yang bebas sampah, bersih dan rapi,  yang diperlukan adalah inisiator dan motivator untuk menumbuhkan keinginan untuk menjadikan sekolah bersih dan nyaman, demikian juga GLS yang telah tetlebih dahulu diluncurkan.

Sulit sekali memulainya karena tingkat kepedulian seluruh warga sekolah pada kebersihan sangat rendah,  terlihat dari tumpukan dan tebaran sampah dimana-mana, bertahun-tahun hanya penjaga sekolah yg mengeluh waktunya tersita hanya untuk membersihkan kelas,  berbeda dengan sekolah yg pernah jadi tempat tugas saya di PSKD,  semua sekolah PSKD terjamin kebersihannya,  sampai ke wcnya juga bersih dan wangi, tidak ada sampah sedikitpun,  walau daun kering,  karena mereka terbiasa buang sampah pada tempatnya dan petugas kebersihannya selalu siaga menjalankan tugasnya, tidak pernah saya melihat petugas membersihkan sampah bekas makanan,  hanya menyapu daun kering dan memindahkan sampah dari tempat sampah yg tersedia ke penampungan sementara sekolah,  wc tidak ada pemisahan,  guru,  siswa, tamu semua dengan wc yg sama,  pembedanya hanya laki-laki dan perempuan, maka interaksi komunikasi antar siswa dan gurupun bisa terjadi di wc,  kadang berlanjut ke taman. Berbeda dengan sekolah lainnya yang wc guru bisa bersih dan wangi,  wc siswa atau siswi baunya naudzubillah.

Kebiasaan di rumah yg buruk juga terbawa siswa ke sekolah,  demikian juga beberapa guru,  terlihat dari cara memperlakukan sampah,  ada yg dengan luwesnya buang sampah dimana saja,  meninggalkan sampah di meja kerjanya,  termasuk bekas makanannya, mungkin di rumahnya semua tempat adalah tempat sampah.  Contoh kecil saja anak saya umur 8 tahun, sekolah tk dan sdnya punya pembiasaan baik memperlakukan sampah, saat ia punya sampah dan ingin membuangnya ia akan berkeliling mencari tempat sampah,  baik di stasiun,  bandara,  di manapun dia berada,  apalagi dalam kereta yg tidak ada tempat sampah maka ia akan menitipkan sampahnya ke tas atau kantongnya untuk dibuang ke tempat sampah, memang pembiasaan yg harus dilakukan semenjak dini.

GKS di SMPN 2 Cigudeg dilaksanakan dengan sistem denda,  setiap yg buang sampah sembarangan akan dikenakan denda Rp.  5.000,- ketentuannya yg menangkap pelaku dan bisa membuktikan akan mendapat uang dari dendanya Rp.  3.000,- dan Rp.  2.000,- dikumpulkan untuk membeli tempat sampah. GKS ini dapat memberikan efek jera untuk yg melakukan dan keuntungan finansial untuk yg menangkap basah,  sekaligus mengajak seluruh siswa untuk melakukan gerakan pungut sampah,  alhamdulillah 2 hari pelaksanaan 4 siswa terkena sanksi dan yg menangkap mendapat hadiahnya, semoga bisa terus berlanjut.

GKS ini dapat terlaksana dengan dukungan seluruh warga sekolah dan bukti nyatanya sekolah kami mulai bebas sampah yang berserakan, intinya ada guru yg siap menjadi provokator untuk GKS ini.

Inspirasi dari GKS ini adalah GLS yang harus dilaksanakan bersama oleh seluruh warga sekolah. Semoga GLS,  GKS dan WJLRC dapat berjalan dengan mulus sepanjang waktu.

Jumat, 12 Agustus 2016

WJLRC ( West Java Leader Reading Challange)

WJLRC (West Java Leader Reading Challange) tahun 2016 akan diikuti oleh 600 SD dan 700 SMP se Jawa Barat selama 10 bulan dengan target membaca dan mereview minimal 24 buku/10 bulan.

Kegiatan WJLRC


  1. Membentuk komunitas siswa membaca diluar jam pelajaran dgn bimbingan guru, 1 kel 5 org, 1 guru membimbing 2-8 kelompok
  2. Peserta siswa kls IV s.d XII
  3. Membaca 2 buah buku pd minggu ke 1 dan 2
  4. Pd minggu ke 3 : siswa menceritakan 2 buku yg sudah dibacanya
  5. Minggu ke 4: siswa membuat review buku yang sudah d bacanya


Penghargaan yang bisa diperoleh

Siswa yg berhasil mereview 24 buku akan mendapatkan medali dan sertifikat Pioner WJLRC

Guru Pembimbing : Mendapatkan sertifikat 84 Jam Pelatihan dan Penerapan Pend.Literasi yg ditandatangani Kadisdik Prov ( Min 80% siswa bimbingannya berhasil mencapai tantangan)

Sekolah : Mendapatkan piagam gubernur sebagai sekolah inspiratif.

Indikator keberhasilan Program


  1. Membaca menjadi aktivitas keseharian seluruh warga
  2. Terbentuknya komunitas membaca
  3. Publikasi hasil karya siswa
  4. Meningkatnya gerakan membaca di masyarakat.


dusarikan dari artikel Endang Setiyaningsih
Penggerak WJLRC

Gerakan Literasi Sekolah:

Gerakan Literasi Sekolah:
Apa dan Mengapa

Gerakan Literasi Sekolah merupakan program yang di gulirkan kemendikbud secara Nasional di bawah payung hukum Permendikbud No.23 tahun 2015 tentang penanaman budi pekerti.

Menurut ibu Mia Damayanti, salahsatu proklamator WJLRC, program literasi  ini disebut gerakan karena program ini bukan program jangka pendek tetapi merupakan program jangka panjang yang berkesinambungan dan tidak akan berhenti sebelum literasi membudaya di Indonesia. Selain itu, alasan diberi nama gerakan juga karena program ini membutuhkan orang orang yang terus bergerak dan dinamis untuk terus mau membumikan budaya literasi di Indonesia, khususnya di lingkungan sekolah.

Secara umum Gerakan Literasi Sekolah dilakukan dalam 2 kegiatan yaitu:
1. Gerakan Literasi Sekolah melalui PEMBIASAAN, dengan cara 15 menit pada awal pembelajaran diisi dengan kegiatan pembiasaan berdoa dan membaca buku buku umum. Kemudian PENGEMBANGAN , yaitu literasi pengayaan mata pelajaran tanpa tuntutan akademik. Dan terakhir PEMBELAJARAN, yaitu literasi mata pelajaran dengan tuntutan akademik (misal membaca buku paket pelajaran).
2. READATHON
Yaitu kegiatan  literasi yang diperuntukkan bagi seluruh warga sekolah mulai dari Kepsek sampai pegawai kebersihan sekolah dengan cara membaca serentak selama 42 menit secara senyap. Kegiatan ini bisa dilakukan seminggu sekali dengan waktu sesuai kesepakatan pihak sekolah.
3.SEMARAK Literasi.
Yaitu membaca serentak seluruh warga sekolah dalam waktu yang relatif singkat, waktunya bisa kurang dari waktu program Readathon. Kegiatan ini sebenarnya bukan kegiatan inti darI GLS. Tetapi sangat mendukung tercapainya GLS jika dilakukan secara konsisten.

Khusus di Jawa Barat, untuk merealisasikan  GLS, Gubernur Jabar menantang seluruh pelajar di Jabar untuk menjadi pionir pionir literasi yang mampu menjawab tantangan bapak Gubernur dengan cara membaca buku minimal 12 buku dalam waktu 10 bulan. Program ini merupakan program unggulan literasi Jabar yang diberi nama WJLRC (West Java Leader's Reading Challenge).
Nah untuk mendukung program inilah salah satu alasan dibentuknya penggerak literasi sekolah tingkat kab/kota di Jabar.

Untuk mendukung WJLRC, maka akan dipilih sekolah sekolah yang memiliki syarat untuk mengikuti program ini, yaitu:
1. Sekolah yang berakreditasi A atau nilai akreditasi 90.
2.Memiliki perpustakaan yang mumpuni
3. Diutamakan sekolah yang berstandar Nasional atau sekolah yang pernah menjadi sekolah RSBI. Akan tetapi syarat ketiga ini tidak mutlak.

Di setiap sekolah yang ditunjuk, akan dipilih minimal 2 guru perintis literasi sebagai pembimbing berjalannya program WJLRC dibawah monitoring penggerak literasi kab/kota.

Untuk mengevaluasi jalannya program WJLRC di sekolah, penggerak literasi kab/kota akan melakukan monitoring dan evaluasi minimal 2 kali selama program ini berjalan yaitu 10 bulan, ke sekolah sekolah yang menjadi sasaran program WJLRC.

Bagi peserta yang mampu menjawab tantangan pada program WJLRC, akan mendapatkan medali dan piagam penghargaan dari Bapak Gubernur Jabar Ahmad Heryawan.

Mari kita sukseskan program WJLRC untuk jabar yang literat.

Literasi Jabar... SUKSESS
Jabar Literat... Ok
Jabar kahiji.. YES YES YES

#Eti Herawati
#Bogor 040616
#belajar menulis